<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:ref="http://purl.org/rss/1.0/modules/reference/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/">
	<channel rdf:about="http://www.romoyatno.info/rss.rdf">
		<title>Social Religion : Website Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr </title>
		<link>http://www.romoyatno.info/mainmessage.php</link>
		<description><![CDATA[@copyright 2010 ADITUSOFT.COM]]></description>
		<items>
			<rdf:Seq>
				<rdf:li resource="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100913" />
				<rdf:li resource="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100245" />
				<rdf:li resource="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101103-190050" />
				<rdf:li resource="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101027-123102" />
			</rdf:Seq>
		</items>
	</channel>
	<item rdf:about="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100913">
		<title>Dari cemberut menuju tersenyum</title>
		<link>http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100913</link>
		<description><![CDATA[

<center><b>PERESMIAN PANEN PERDANA HASIL RECOVERY EKONOMI
MASYARAKAT KURBAN ERUPSI MERAPI</b><br>
(Dari cemberut menuju tersenyum)</center><p>

Y. Suyatno H. Pr<p>

Untuk memberikan solusi bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat erupsi Merapi, telah diusahakan beberapa kegiatan peningkatan ekonomi. Semula kami sudah merasa bahagia, karena hasil perjuangan untuk mengubah mentalitas petik masyarakat kurban erupsi Merapi menjadi masyarakat tanam sudah mulai menampakkan hasilnya.<p>
 
<b>1. Kambing gadug gulir</b><br>
Semula kambing bligon yang kami gadug gulirkan pada warga sudah beranak-pinak, dari 16 ekor kini sudah menjadi 98 ekor. Strategi yang kami pakai adalah bahwa masyarakat yang berminat memelihara kambing, entah gembel atau bligon, kami kumpulkan untuk mendapat kursus perawatan kambing. Kemudian kami belikan 8 pasang kambing, setiap keluarga yang telah siap kami pinjamkan satu pasang induk kambing. Kambing kemudian dirawat dan dikawinkan dengan pejantan yang telah kami sediakan. Bila akhirnya beranak, dan si anak kambing sudah disapih, maka kedua induk kambing digulirkan kepada peminat yang lain. Sedangkan anak kambing menjadi milik pemelihara. Namun, tidak boleh dijual kecuali si cempe sudah beranak. Demikian ke 8 pasang atau 16 ekor telah mengalami guliran beberapa kali. Kini jumlahnya sudah menjadi 98 ekor. 
Para pemelihara kambing mempunyai aturan: Setiap tanggal 19 berkumpul secara bergiliran di rumah-rumah pemelihara untuk membagi pengalaman. Soal pengguliran diputuskan bahwa saat menggulirkan kambing ke pemelihara berikut, yang telah mendapatkan anak kambing menyetor Rp 25.000 per induk ke posko, dengan harapan bila kambing telah beranak 6 kali, harus dijual dan diremajakan, biaya bisa ditambah dari setoran tersebut. Mereka juga punya inisiatif, setiap dua bulan, mengundang dokter hewan untuk memeriksa kambing-kambing mereka.<p>

<p><b>2. Pelatihan penanaman cabe dan sayur organik</b><br>
Ternyata ketika ditawari untuk bertani, banyak warga yang ogah-ogahan, maka kami memilih, mereka yang mau belajar dikursuskan menjadi petani organik. Sebagai stimulasi, mereka yang berminat dan telah mendapatkan kursus, kami memberikan mulsa (plastik untuk menanam), pupuk organik jenis kompos dan bibit sayur serta cabe 2.000 batang per peminat. Maka, dari bibit sejumlah 110.000, kami berhasil mengubah mentalitas petik menjadi petani sejumlah 55 orang. Ini tahap pertama, sedangkan tahap ke dua, dari peminat lain, kami berikan mulsa, pupuk dan bibit yang masih biji. Mereka kami panggilkan ahli untuk memberi kursus. Kini, petani sayur dan cabe kloter pertama telah mulai memanen sayur dan cabe dengan luas tanah sekitar 3,5 hektar. Tapi, kami mengalami kesulitan pemasaran.</p>

<table align="right" background=""><tr><td><img src="allimages/romoyatno_Bebek19_email.jpg" width="220"></td></tr></table>

<p><b>3. Bebek Potong</b><br>
Karena tidak semua berminat ke pertanian, kami carikan alternatif untuk membesarkan bibit bebek menjadi bebek pedaging. Yang berminat kami kursuskan. Ternyata begitu banyak peminat, sebab lama pemeliharaan bebek hanya membutuhkan waktu 2 bulan untuk panen. Kini sudah ada 60 petani bebek potong dan 8.000 anak bebek telah kami bagikan. Mereka kami beri 100 ekor anak itik untuk tahap pertama, kemudian dalam waktu 3 minggu berikut, bagi yang berhasil, kami tambah dengan 100 ekor lagi. Harapannya, kalau sudah sampai masa panen tidak terjadi booming bebek potong. Diharapkan, panenan terjadi secara bergantian setiap 3 sampai 5 hari sekali. Kesepakatan bersama adalah, kelak di masa panen, setiap 100 bebek dikembalikan ke posko 5 ekor. Berarti untuk setiap 200 ekor, Posko mendapat 10 ekor dari petani. Harapannya, kumpulan dari pengembalian itu dapat dipakai untuk membeli anak itik untuk diberikan kepada mereka yang belum mendapat guliran. Kini sudah minggu ke dua dimulainya panen bebek potong. Pasar baru mulai kami ciptakan, demikian pula baru 1 restoran yang mau menampung 56 bebek setiap 5 hari. Artinya, kami mulai surplus panen. Sekali lagi kami membutuhkan pembeli.</p>

<p><b>4. Lele dengan kolam dari terpal</b><br>
Di tempat kami tinggal, kami membuat suatu percontohan, bahwa pemeliharaan anak itik ada di atas kolam lele. Asal selalu terkena matahari ternyata hasilnya bagus. Lele mendapat makan dari sisa makanan dan kotoran bebek. Si bebek berkembang dengan baik. Karena itu kegiatan tersebut banyak ditiru oleh para pemelihara bebek. Sampai saat ini kami sedang melatih  untuk membuat kolam dari terpal di bawah kandang bebek. Adapun bibit lele yang telah kami sebarkan pada masyarakat sejumlah 9.800 ekor.</p> 
	
<p>Kanjeng Ratu Hemas (Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X) menjadi solusi. Ternyata setelah mulai masa panen, pemasaran menjadi soal utama. Pelbagai usaha untuk mencari pelanggan atau pembeli sedang diusakan, namun hasilnya belum memuaskan. Beberapa rekan mempunyai gagasan untuk menyebarkan panen lewat pers. Namun, kalau wartawan diundang begitu saja pasti tidak tertarik. Karena itu kami mencoba menghubungi Kanjeng Ratu Hemas untuk meresmikan panen perdana bebek potong dan cabe organik. Ternyata undangan yang hanya lewat SMS ditanggapi dengan baik. Karena itu hari Minggu 12 Juni, jam 14 yang lalu, Ratu Hemas berkenan hadir dan membuka dimulainya panen cabe organik dan bebek potong. Meski ada 45 bebek yang kami potong untuk pesta bersama, ternyata ide tersebut cukup jitu. Banyak wartawan kami undang, juga pejabat pemerintah, petani dan relawan. Sehingga, halaman Posko Somohitan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) penuh dengan manusia. Dampak dari seremoni tersebut, kini, baik cabe, sayur maupun bebek potong mulai mendapat pasaran.  Sedangkan lele belum masuk masa panen. Diharapkan, menjelang lebaran sudah mulai panen. Aduh senangnya bila melihat para korban erupsi yang kehilangan mata pencaharian bisa tersenyum saat panen cabe atau bebek potong. Siapa berkenan membeli? Perjuangan, meski berat, suatu saat pasti akan memetik hasil.</p>

(Rm Yatno – Posko FPUB SOMOHITAN
<br />]]></description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100245">
		<title>RECOVERY EKONOMI LERENG MERAPI : MENUJU SENTRA BEBEK POTONG</title>
		<link>http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry110621-100245</link>
		<description><![CDATA[RECOVERY EKONOMI LERENG MERAPI<br /><br />MENUJU SENTRA BEBEK POTONG<br /><br />Rm. Y.Suyatno Hadiatmojo<br /><br />Seperti yang<br />telah kami beritakan dalam laporan peiode yang terdahulu,  bahwa masyarakat khususnya 0-10 km dari<br />puncak Merapi sesudah pulang dari pengungsian mengalami kesulitan ekonomi.<br />Karena pasir kali Krasak, Kali Bedog dan Kali Boyong yang menjadi penghasilan<br />pokok tidak lagi bisa diharapkan karena selain jembatan jebol akibat lahar<br />dingin, pasir yang semula menumpuk kini sudah mengalir ke wilayah bahwa beserta<br />banjir lahar dingin yang terus berlangsung. Sementara penghasilan susu sapi<br />perah tidak sebanding dengan jerih payah merumput setiap hari. Salak yang<br />menjadi andahalan masyarakat yang berposisi 5-10 km dari puncak tidak lagi<br />menghasilkan akibat hujan abu panas, lumpur panas dan hujan kerikil  sewaktu erupsi Merapi. <br /><br />Situasi<br />tersebut memaksa masyarakat mencari jalan pintas yakni memotongi kayu-kayu baik<br />yang mati maupun yang hidup bahkan kayu penghijauan untuk dijadikan kayu bakar<br />demi kelangsungan kehidupan mereka.  Bisa<br />dibayangkan bila jumlah keluarga masyarakat ring satu  521 Kepala keluarga,  yang setiap hari memotong kayu kurang lebih<br />100 kepala keluarga. Akan bertahan berapa lama hutan lereng barat Gunung Merapi<br />akan mampu bertahan?<br /><br />Menanggapi<br />situasi tersebut, sejak bulan April 2011 kami Posko FPUB Somohitan mencoba<br />mencari jalan alternative untuk menolong masyarakat korban erupsi Merapi dengan<br />mengadakan beberapa kegiatan yang berdampak pada perbaikan ekonomi. Yakni:<br />Pelatihan penanaman cabe dan sayuran, pembuatan kolam lele dari terpal,<br />penggadhuhan kambing gulir,  pembesaran<br />anak itik untuk menjadi bebek pedaging. <br /><br />Memang tidak<br />mudah mengubah cara hidup Petik ke Cara hidup tanam, namun kami mencoba dengan<br />sabar melatih masyarakat khususnya dalam pembesaran anak itik baik dari<br />pemeliharaan, pembuatan kandang dan perawatan. Setiap warga yang berminat kami<br />beri 200 ekor meri Kini dalam bulan yang ke 2 sudah ada 38 peternak itik potong<br />yang telah siap panen. Ada harapan baru dari masyarakat untuk memetik hasil<br />pelatihan selama ini. Seperti harapan kami kesibukan pemeliharaan itik selain<br />menambah penghasilan juga bisa mengalihkan perhatian masyarakat dari memotong<br />kayu-kayu lereng Merapi menjadi penghasil bebek potong. Syukur andaikata di<br />seputaran Turi di waktu ke depan bisa menjadi sentra penghasil bebek potong.<br />Kalu ada yang mau membantu pemasaran, kami sangat berterima kasih.<br /><br />Romo Yatno<br /><br />Posko Merapi<br />FPUB Somohitan<br /><br /><img src="allimages/romoyatno_Bebek_1_email.jpg" width="334" height="251" border="0" alt="" /><br /><br /><img src="allimages/romoyatno_Bebek2_email.jpg" width="334" height="251" border="0" alt="" /><br /><br /><img src="allimages/romoyatno_Bebek_14_email.jpg" width="334" height="251" border="0" alt="" /><br /><br /><br /><br /><br />]]></description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101103-190050">
		<title>Pengungsi Merapi</title>
		<link>http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101103-190050</link>
		<description><![CDATA[

<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/847360970/name/IMG_7601.jpg" target="_blank" ><img src="allimages/romoyatno_Merapi_Marah.jpg"></a><br><br>


<table align="right" background="">
	<tr>
		<td>
		<br />
<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/484552318/name/PIC_0819.jpg" target="_blank" ><img src="allimages/romoyatno_Merapi1.jpg" width="200" hspace="10"></a><br>

<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/907602978/name/IMG_7525.jpg" target="_blank" ><img src="allimages/romoyatno_Merapi2.jpg" width="200" hspace="10"></a><br>

<a href="http://xa.yimg.com/kq/groups/17510854/sn/2023815349/name/PIC_0742.jpg" target="_blank" ><img src="allimages/romoyatno_Merapi3.jpg" width="200" hspace="10"></a>
</td></tr></table>

<h1>Situasi Pengungsi</h1><p>

Sejak letusan besar Gunung Merapi, Selasa (26/10/10), Jumat dan Minggu Sore serta Senin pagi, para pengungsi terus bertambah. Bahkan, barak-barak  yang disediakan pemerintah desa tidak lagi menampung pengungsi. Karena itu begitu banyak pengungsi baru tidak mendapatkan tempat bernaung. Maka, mereka nunut bernaung di rumah-rumah penduduk yang bersedia menampung. Tidak ketinggalan pastoran Somohitan menjadi tempat untuk berteduh. Hal ini banyak dialami oleh paroki-paroki yang umatnya di lereng Merapi.<p>

Sejak Senin pagi saya beserta beberapa relawan melihat kondisi pengungsi “SWASTA” yang amat banyak. Namun, ternyata mereka amat banyak yang tidak mendapatkan santunan dari barak-barak atau posko-posko resmi pemerintah. Akibatnya, mereka berdatangan di Posko Swasta Somohitan, karena mereka tidak banyak direpotkan PROSEDUR yang bertele-tele.<p>

Senin siang, kami mendapatkan ROMBONGAN dari Ratu Hemas. Mereka bertanya mengenai pengelolaan Posko. Saya mengatakan bahwa kami tidak dibantu pemerintah, namun kami hanya menutup “Bolong-bolong” (lubang-lubang) yang tidak dijangkau oleh pemerintah. Ternyata bukan hanya bolong-bolong, tetapi begitu banyak yang masih terabaikan. Padahal di gudang-dugang Posko plat Merah hal itu melimpah bantuan. Tim Ratu Hemas kami selundupkan untuk melihat dari dekat keadaan pengungsi “swasta” dan gudang-gudang pemerintah. Mereka lalu kembali ke Posko Somohitan pas ketika terdapat begitu banyak orang dari Barak Swasta yang meminta bantuan ke Somohitan. Sungguh mereka kaget dengan kenyataan itu, bahkan ada yang sempat meneteskan air mata.<p>

Saya kemudian menceritakan kegiatan kami di waktu malam. Setiap malam, kira-kira jam 20.00, kami menyiapkan logistik untuk diedarkan pada anggota masyarakat yang menjaga keselamatan kampung yang ditinggalkan oleh penghuninya. Kebanyakan mereka yang menjaga kampung berada di wilayah Ring satu, artinya di daerah yang sangat berbahaya. Dengan antusias mereka ingin mengikutinya. Mulai jam  20.00 saya memimpin ekspedisi ke 35 titik kumpul. Tim kami bagi menjadi dua, mulai dari sisi Barat dan sisi Timur dalam monitoring posko Induk Somohitan, Pakem dan Purwobinangun. Tim dari Barat mengadakan droping logistik mulai Balerante Kulon, Tlatar, Ngembesan, Gondoarum, Tunggularum, Tritis Kulon, Ngandung, Pelem, Panceh, Mencon, Kemiri Kebo. Sedangkan dari sisi Timur mulai dari Tawangrejo, Ngolsari,  Ngepring, Tritis, Kratuhan, Turgo. Setiap dusun terdiri dari 3 sampai empat titik kumpul. Tim Ratu Hemas begitu bahagia bisa melihat kenyataan di lapangan di waktu malam. Ini Persis pengalaman Mgr. Suharyo waktu tahun 2006 ketika  beliau kami ajak keliling untuk melihat keadaan para pengungsi.<p>

Kesimpulan dari kegiatan hari ini:<p>

1.       Kita jangan main-main dengan alam yang murka, lihat kenyataan di Kinahrejo<br>

2.       Ternyata, begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik dan begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan kita<br>

3.       Sapaan atau salam saja sudah menguatkan semangat mereka<br>

4.       Bagitu banyak orang yang setia menjaga kampung halamannya meski harus dalam keadaan was-was dan khawatir<br>

5.       Tim Ratu Hemas melihat kenyataan, lalu mereka sangat berterima kasih boleh mengalami hari ini.<br>

6.       Laporan yang sering sampai di pemerintah pusat sangat jauh dari kenyataan<br>

7.       Besuk  Selasa pagi, akan diusahakan drooping logistic untuk mendudukung kami.<br>

8.       SIAPA YANG PUNYA TELINGA HENDAKLAH MENDENGAR DAN YANG MEMPUNYAI MATA HENDAKLAH  MELIHAT<br>

9.       ??????

]]></description>
	</item>
	<item rdf:about="http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101027-123102">
		<title>Merapi</title>
		<link>http://www.romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101027-123102</link>
		<description><![CDATA[

<h1>STATUS MERAPI</h1><p>

Saat ada orang kecebur sumur, itu ternyata menimbulkan banyak sikap dan tanggapan:<br>

1. Ada yang mendoakan supaya persoalan cepat teratasi - Lumayan<br>
2. Ada yang memberi tugas baru kepada Tuhan, Tolong Tuhan Selamatkanlah orang itu supaya selamat sampai di atas. - tidak lumayan<br>
3. Ada orang yang menyalahkan "Mengapa tidak hati-hati sampai kecebur sumur?"<br>
4. Ada yang mendiskusikan secara sangat ilmiah, mengapa ada orang bisa kecemplung sumur<br>
5. Ada orang melongok ke dalam sumur, sambil geleng-geleng kepala lalu <i>udat-udut</i> (rokok-rokok), ikutan makan snack dan minum, lalu pergi.<br>
Namun, si Korban tetap sekarat di dalam sumur.<p>

Tiba-tiba ada orang asing yang melihat peristiwa itu, lalu pergi mencari pinjaman <i>looding</i> atau tali besar, kemudian datang ke lokasi kejadian, mengikatkan tali ke pohon dekat sumur, kemudian orang itu turun ke dasar sumur, mengikat orang itu dengan tali, kemudian orang itu naik lagi ke atas, dan mengajak temannya untuk menarik orang itu, hingga terselamatkan. Kemudian orang asing itu segera melepas tali, menggulungnya, lalu pergi mengembalikan tali kepada pemiliknya. Saat datang ke lokasi kejadian, orang itu telah dikerubungi banyak orang dan dirawat. Melihat keadaan korban sudah terkondisi, orang asing itu segera pergi.<p>

Saat Si korban mulai bisa berbicara, ia teriak-teriak memanggil orang yang menyelamatkan, namun Si penyelamat sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Si korban menangis dan <i>matur nuwun</i> (mengucapkan terima kasih). Namun, ketika Si korban mencari sesuatu di saku celananya, didapatinya sesobek kertas yang terselip dengan tulisan yang tercampur lumpur yang berbunyi:"Kalau kamu telah terselamatkan, jangan mencari aku, karena aku telah tinggal di hati orang-orang kecil dan sengsara di sekitar rumahmu. Maka, kalau kamu mau berterima kasih kepadaku, rasa syukur itu berikanlah kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan dan ketakutan, seperti warga Lereng Merapi yang sedang was-was. Terutama, kelak kalau harus mengungsi"<p>

Situasi Gunung Merapi seperti apa adanya, yang takut dan khawatir adalah masyarakat sekitar lereng Merapi.<p>

Baca: <a href="http://romoyatno.info/mainmessage.php?entry=entry101103-190050"> Pengungsi Merapi</a>

]]></description>
	</item>
</rdf:RDF>

