Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr
( Romo Yatno )
   
Dari cemberut menuju tersenyum 
Tuesday, June 21, 2011, 16:09 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno
PERESMIAN PANEN PERDANA HASIL RECOVERY EKONOMI MASYARAKAT KURBAN ERUPSI MERAPI
(Dari cemberut menuju tersenyum)

Y. Suyatno H. Pr

Untuk memberikan solusi bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat erupsi Merapi, telah diusahakan beberapa kegiatan peningkatan ekonomi. Semula kami sudah merasa bahagia, karena hasil perjuangan untuk mengubah mentalitas petik masyarakat kurban erupsi Merapi menjadi masyarakat tanam sudah mulai menampakkan hasilnya.

1. Kambing gadug gulir
Semula kambing bligon yang kami gadug gulirkan pada warga sudah beranak-pinak, dari 16 ekor kini sudah menjadi 98 ekor. Strategi yang kami pakai adalah bahwa masyarakat yang berminat memelihara kambing, entah gembel atau bligon, kami kumpulkan untuk mendapat kursus perawatan kambing. Kemudian kami belikan 8 pasang kambing, setiap keluarga yang telah siap kami pinjamkan satu pasang induk kambing. Kambing kemudian dirawat dan dikawinkan dengan pejantan yang telah kami sediakan. Bila akhirnya beranak, dan si anak kambing sudah disapih, maka kedua induk kambing digulirkan kepada peminat yang lain. Sedangkan anak kambing menjadi milik pemelihara. Namun, tidak boleh dijual kecuali si cempe sudah beranak. Demikian ke 8 pasang atau 16 ekor telah mengalami guliran beberapa kali. Kini jumlahnya sudah menjadi 98 ekor. Para pemelihara kambing mempunyai aturan: Setiap tanggal 19 berkumpul secara bergiliran di rumah-rumah pemelihara untuk membagi pengalaman. Soal pengguliran diputuskan bahwa saat menggulirkan kambing ke pemelihara berikut, yang telah mendapatkan anak kambing menyetor Rp 25.000 per induk ke posko, dengan harapan bila kambing telah beranak 6 kali, harus dijual dan diremajakan, biaya bisa ditambah dari setoran tersebut. Mereka juga punya inisiatif, setiap dua bulan, mengundang dokter hewan untuk memeriksa kambing-kambing mereka.

2. Pelatihan penanaman cabe dan sayur organik
Ternyata ketika ditawari untuk bertani, banyak warga yang ogah-ogahan, maka kami memilih, mereka yang mau belajar dikursuskan menjadi petani organik. Sebagai stimulasi, mereka yang berminat dan telah mendapatkan kursus, kami memberikan mulsa (plastik untuk menanam), pupuk organik jenis kompos dan bibit sayur serta cabe 2.000 batang per peminat. Maka, dari bibit sejumlah 110.000, kami berhasil mengubah mentalitas petik menjadi petani sejumlah 55 orang. Ini tahap pertama, sedangkan tahap ke dua, dari peminat lain, kami berikan mulsa, pupuk dan bibit yang masih biji. Mereka kami panggilkan ahli untuk memberi kursus. Kini, petani sayur dan cabe kloter pertama telah mulai memanen sayur dan cabe dengan luas tanah sekitar 3,5 hektar. Tapi, kami mengalami kesulitan pemasaran.

3. Bebek Potong
Karena tidak semua berminat ke pertanian, kami carikan alternatif untuk membesarkan bibit bebek menjadi bebek pedaging. Yang berminat kami kursuskan. Ternyata begitu banyak peminat, sebab lama pemeliharaan bebek hanya membutuhkan waktu 2 bulan untuk panen. Kini sudah ada 60 petani bebek potong dan 8.000 anak bebek telah kami bagikan. Mereka kami beri 100 ekor anak itik untuk tahap pertama, kemudian dalam waktu 3 minggu berikut, bagi yang berhasil, kami tambah dengan 100 ekor lagi. Harapannya, kalau sudah sampai masa panen tidak terjadi booming bebek potong. Diharapkan, panenan terjadi secara bergantian setiap 3 sampai 5 hari sekali. Kesepakatan bersama adalah, kelak di masa panen, setiap 100 bebek dikembalikan ke posko 5 ekor. Berarti untuk setiap 200 ekor, Posko mendapat 10 ekor dari petani. Harapannya, kumpulan dari pengembalian itu dapat dipakai untuk membeli anak itik untuk diberikan kepada mereka yang belum mendapat guliran. Kini sudah minggu ke dua dimulainya panen bebek potong. Pasar baru mulai kami ciptakan, demikian pula baru 1 restoran yang mau menampung 56 bebek setiap 5 hari. Artinya, kami mulai surplus panen. Sekali lagi kami membutuhkan pembeli.

4. Lele dengan kolam dari terpal
Di tempat kami tinggal, kami membuat suatu percontohan, bahwa pemeliharaan anak itik ada di atas kolam lele. Asal selalu terkena matahari ternyata hasilnya bagus. Lele mendapat makan dari sisa makanan dan kotoran bebek. Si bebek berkembang dengan baik. Karena itu kegiatan tersebut banyak ditiru oleh para pemelihara bebek. Sampai saat ini kami sedang melatih untuk membuat kolam dari terpal di bawah kandang bebek. Adapun bibit lele yang telah kami sebarkan pada masyarakat sejumlah 9.800 ekor.

Kanjeng Ratu Hemas (Permaisuri Sultan Hamengku Buwono X) menjadi solusi. Ternyata setelah mulai masa panen, pemasaran menjadi soal utama. Pelbagai usaha untuk mencari pelanggan atau pembeli sedang diusakan, namun hasilnya belum memuaskan. Beberapa rekan mempunyai gagasan untuk menyebarkan panen lewat pers. Namun, kalau wartawan diundang begitu saja pasti tidak tertarik. Karena itu kami mencoba menghubungi Kanjeng Ratu Hemas untuk meresmikan panen perdana bebek potong dan cabe organik. Ternyata undangan yang hanya lewat SMS ditanggapi dengan baik. Karena itu hari Minggu 12 Juni, jam 14 yang lalu, Ratu Hemas berkenan hadir dan membuka dimulainya panen cabe organik dan bebek potong. Meski ada 45 bebek yang kami potong untuk pesta bersama, ternyata ide tersebut cukup jitu. Banyak wartawan kami undang, juga pejabat pemerintah, petani dan relawan. Sehingga, halaman Posko Somohitan Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) penuh dengan manusia. Dampak dari seremoni tersebut, kini, baik cabe, sayur maupun bebek potong mulai mendapat pasaran. Sedangkan lele belum masuk masa panen. Diharapkan, menjelang lebaran sudah mulai panen. Aduh senangnya bila melihat para korban erupsi yang kehilangan mata pencaharian bisa tersenyum saat panen cabe atau bebek potong. Siapa berkenan membeli? Perjuangan, meski berat, suatu saat pasti akan memetik hasil.

(Rm Yatno – Posko FPUB SOMOHITAN

RECOVERY EKONOMI LERENG MERAPI : MENUJU SENTRA BEBEK POTONG 
Tuesday, June 21, 2011, 16:02 - Sosial/Kemasyarakatan Posted by romoyatno
RECOVERY EKONOMI LERENG MERAPI

MENUJU SENTRA BEBEK POTONG

Rm. Y.Suyatno Hadiatmojo

Seperti yang
telah kami beritakan dalam laporan peiode yang terdahulu,  bahwa masyarakat khususnya 0-10 km dari
puncak Merapi sesudah pulang dari pengungsian mengalami kesulitan ekonomi.
Karena pasir kali Krasak, Kali Bedog dan Kali Boyong yang menjadi penghasilan
pokok tidak lagi bisa diharapkan karena selain jembatan jebol akibat lahar
dingin, pasir yang semula menumpuk kini sudah mengalir ke wilayah bahwa beserta
banjir lahar dingin yang terus berlangsung. Sementara penghasilan susu sapi
perah tidak sebanding dengan jerih payah merumput setiap hari. Salak yang
menjadi andahalan masyarakat yang berposisi 5-10 km dari puncak tidak lagi
menghasilkan akibat hujan abu panas, lumpur panas dan hujan kerikil  sewaktu erupsi Merapi.

Situasi
tersebut memaksa masyarakat mencari jalan pintas yakni memotongi kayu-kayu baik
yang mati maupun yang hidup bahkan kayu penghijauan untuk dijadikan kayu bakar
demi kelangsungan kehidupan mereka.  Bisa
dibayangkan bila jumlah keluarga masyarakat ring satu  521 Kepala keluarga,  yang setiap hari memotong kayu kurang lebih
100 kepala keluarga. Akan bertahan berapa lama hutan lereng barat Gunung Merapi
akan mampu bertahan?

Menanggapi
situasi tersebut, sejak bulan April 2011 kami Posko FPUB Somohitan mencoba
mencari jalan alternative untuk menolong masyarakat korban erupsi Merapi dengan
mengadakan beberapa kegiatan yang berdampak pada perbaikan ekonomi. Yakni:
Pelatihan penanaman cabe dan sayuran, pembuatan kolam lele dari terpal,
penggadhuhan kambing gulir,  pembesaran
anak itik untuk menjadi bebek pedaging.

Memang tidak
mudah mengubah cara hidup Petik ke Cara hidup tanam, namun kami mencoba dengan
sabar melatih masyarakat khususnya dalam pembesaran anak itik baik dari
pemeliharaan, pembuatan kandang dan perawatan. Setiap warga yang berminat kami
beri 200 ekor meri Kini dalam bulan yang ke 2 sudah ada 38 peternak itik potong
yang telah siap panen. Ada harapan baru dari masyarakat untuk memetik hasil
pelatihan selama ini. Seperti harapan kami kesibukan pemeliharaan itik selain
menambah penghasilan juga bisa mengalihkan perhatian masyarakat dari memotong
kayu-kayu lereng Merapi menjadi penghasil bebek potong. Syukur andaikata di
seputaran Turi di waktu ke depan bisa menjadi sentra penghasil bebek potong.
Kalu ada yang mau membantu pemasaran, kami sangat berterima kasih.

Romo Yatno

Posko Merapi
FPUB Somohitan












| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | Next> Last>>

 
    Login Admin        @copyright 2010 ADITUSOFT.COM     LoginMember